Renungan dari Romo Susilo

Haloo Temen2, ini ada renungan dari Romo Susilo dari NY beliau nanti
yang akan pimpin misa Indo kita bulan oktober


Sunday Scripture Reflections

TWENTY-THIRD SUNDAY OF THE YEAR

Ezekiel 33:7-9 Romans 13:8-10 Matthew 18:15-20

Hari ini kita diingatkan bahwa menjadi anggota gereja berarti juga menjadi anggota komunitas persaudaraan dalam Kristus. Artinya bahwa menjadi seorang Kristen bukan melulu urusan pribadi, walaupun kenyataan untuk beberapa orang demikian adanya. Ketika Allah bertanya kepada Kain, “dimanakah saudaramu?”, Kain menjawab, “emangnya gue penjaganya dia?” injil mengajarkan bahwa memang kita harus turut bertanggungjawab terhadap saudara-saudari kita.

Bukan hanya itu, hubungan kita dengan Yesus, dengan Allah, tercermin dalam bagaimana kita berhubungan dengan orang lain – apakah mereka kita anggap seperti anggota keluarga sendiri ataukah seperti orang asing. “Dengan demikian kalian semua tahu bahwa kalian adalah murid-muridKu, jika kamu mengasihi satu sama lain” (Yoh 13:35) dan “
sebagaimana sering kamu lakukan/tidak lakukan untuk saudara-saudariKu yang paling hina ini, kalian melakukan/tidak melakukan untuk Aku” (Mat 25:40,45).

Banyak dari kita keberatan untuk terlibat dengan urusan orang lain. Terkadang sikap demikian juga baik dan berguna namun kadang juga tidak baik. Jadi tergantung situasinya juga.

RELASI KOMUNITAS

Bacaan injil hari ini menceritakan soal situasi dalam komunitas kristiani. Seluruh bab 18 dari Injil Mateus adalah wejangan hubungan timbal balik dalam komunitas kristiani dan khususnya apa yang mesti dilakukan ketika perpecahan terjadi (dan memang sering terjadi). Kita adalah komunitas para pendosa yang sedang mencoba menjadi suci
dan sudah sewajarnya kita mengalami jatuh bangun dalam perjalanan. Dalam bacaan hari ini kita melihat pertama-tama ada tiga tahap prosedur menghadapi anggota komunitas yang berbuat salah. Kita diajak untuk mewujudkan rekonsiliasi daripada menghukum. Sangat dianjurkan untuk menjaga masalah supaya jangan sampai menyebar.
Maka, tahap pertama ialah bagi dua orang yang terlibat perlu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jika bisa diselesaikan berdua saja maka memang demikianlah seharusnya. “Kamu telah mendapatkan kembali saudaramu.” “Mendapatkan kembali” artinya bertobat. Tidak cukup hanya berhenti untuk tidak berbuat namun juga perlu perubahan
sikap dan perdamaian yang jujur dengan musuhnya. Jika orang itu tidak mau mendengarkan saudaranya, maka perlu dihadirkan beberapa saksi. Namun jika dia tetap tidak mau mendengarkan mereka, maka “sampaikanlah persoalannya kepada jemaat”
(gereja). Istilah “Gereja” disini dimengerti sebagai komunitas local (bdk. Why 1:4-3:22)

PENGUCILAN

Jalan terakhir, jika memang dia tidak mau mendengarkan atau berubah ialah, “pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”. Maka bisa dikatakan, biarkanlah dia hidup di luar komunitas dan anggaplah seperti orang luar. Dengan sangat jelas, ini merupakan jalan terakhir dan terpaksa ditempuh
bukan dalam semangat balas dendam namun demi kebaikan seluruh komunitas. Tentu saja hal ini membutuhkan waktu untuk memutuskan sebab perlu mendengarkan kesaksian banyak orang dalam mencari kebenaran.

Mungkin orang akan bertanya, bagaimana jika dibandingkan dengan keterbukaan Yesus kepada para pendosa, termasuk para pemungut pajak dan pelacur? Atau bahkan juga kisah anak yang hilang? Yesus menerima orang-orang itu tanpa syarat. Namun perlu diingat juga tergantung dari perubahan hati mereka dan sejauhmana mereka sungguh-sungguh
menjauhi jalan yang salah. Yesus duduk makan bersama dengan para pendosa, bukan semata-mata karena Dia suka dengan mereka lebih daripada orang baik-baik namun karena Yesus berharap untuk membawa mereka kembali ke jalan yang benar. Ketika Dia mengampuni perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah, Yesus berkata kepada perempuan itu “jangan berbuat dosa lagi”. Anak yang hilang juga diterima dengan tangan terbuka sesudah dia memutuskan untuk bertobat. Dengan keputusannya sendiri dia kembali kepada bapanya.

MILIK UMUM DAN MILIK PRIBADI

Baik komunitas maupun pribadi, mempunyai kepentingan yang sama yakni jika orang yang berdosa itu tetap bertingkah-laku yang bertentangan dengan moral kristiani, maka dia konsekuensinya perlu dipisahkan dari komunitas.

Kita mempraktekkannya dengan tidak mengijinkan orang yang berdosa berat untuk menerima komuni. (Namun banyak orang yang melakukan dosa berat tetap menerima komuni karena tidak merasa berdosa.) keadaan akan berubah dengan cara orang tersebut sungguh-sungguh menunjukkan perubahan sikap dan tingkap-laku dari yang salah. Sekali dia bertobat, dia akan diterima dan harus diterima dengan sukacita.

Lagi, “jika ada dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka akan dikabulkan oleh Bapak-Ku yang di surga. Sebab dimana ada dua atau tiga orang berkumpul atas namaKu di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Dimanapun orang Kristen berkumpul dalam kebenaran dan kasih, apakah itu doa, belajar, atau membuat keputusan, Yesus hadir dan Yesus berbicara dan berkarya. Ini
merupakan hadiah yang luar biasa namun juga mengandaikan tanggungjawab besar.

SEGALANYA ADALAH KASIH

Santo Paulus dalam bacaan kedua menekankan kasih. Sudah menjadi kewajiban orang Kristen yakni mengasihi. “Kasih adalah sesuatu yang tidak dapat melukai sesamamu; itulah mengapa kasih merupakan kesempurnaan hukum”. Jika kita sungguh mengasihi orang lain maka kita juga mengasihi Allah sendiri. Aku seharusnya melihat apa yang diperlukan saudara-saudariku. Kalau saya melihat mereka terluka baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, itu juga urusanku.

SATU-SATUNYA JALAN KESELAMATAN

Mudah untuk membayangkan bahwa menjadi seorang katolik berarti berkaitan dengan relasi antara Allah dan saya, sebab tugasku ialah “menyelamatkan nyawaku.” Namun kenyataannya, jalan satu- satunya “untuk menyelamatkan nyawaku” ialah dengan menjadi orang yang penuh kasih dan murah hati terhadap sesama. Sebagai kelompok kita perlu memperhatikan kesejahteraan sesama kita dan bukan hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Maka tidak cukuplah juga orang hanya mengakukan dosanya secara pribadi kepada romo namun tanpa perubahan sikap nyata terhadap saudara-saudarinya. Rekonsiali sudah seharusnya juga pada level komunitas.

Tahukah teman-teman?

Apa itu Rabu Abu?
Mengapa kita berpuasa dan/atau berpantang?
Mengapa kening kita ditandai dengan abu pada Rabu Abu?
Cobalah pikirkan dulu jawabannya dan tanyakan pada diri sendiri… :)
Masih bingung dan ragux2? Coba cari jawabannya di:
http://www.indocell.net/yesaya/id73.htm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.